Shopee Xpress diciptakan untuk hentikan candu Gratis Ongkir?

Asal usul budaya Gratis Ongkir

Dulu, awal diperkenalkannya marketplace di Indonesia, seingat saya sekitar Tahun 2010an. Waktu itu belum ada yang namanya gratis ongkir.

Bahkan jauh sebelum marketplace, orang Indonesia dulunya belanja online di kaskus FJB (forum jual beli). Nah di kaskus, jangankan gratis ongkir, kita sebagai pembeli, kalau mau bayar, itu kena biaya lagi. Karena waktu itu sistem pembayarannya masih pakai rekening bersama (rekber). Jadi antara toko, sistem pembayaran, dan kurir semua terpisah. Pokoknya primitif banget lah waktu itu.

Nah kemudian dari 2010 ke 2015, beragam perusahaan marketplace mulai bermunculan, bukalapak, tokopedia, shopee, lazada, blibli, dll. yang datang dengan beragam promo yang memanjakan pembeli.

Ini adalah masa masa stimulus, semua pelaku marketplace mendorong masyarakat yang awalnya belanja di toko konvensional (offline), agar beralih terbiasa berbelanja online di marketplace.

Di tengah – tengah kompetisi marketplace yang semakin sengit, dimana masing masing dari mereka, saling mengeluarkan senjata pamungkasnya untuk memenangkan hati customer.

Mulai dari iklan iklan unik, pakai bintang iklan kelas dunia, promo diskon gila gilaan, cashback, dan salah satunya adalah gratis ongkir.

Promo gratis ongkir adalah salah satu strategi marketing yang sangat-sangat efektif untuk menstimulasi / membuat orang yang tadinya terbiasa belanja di toko konvensional, jadinya tertarik berbelanja online.

Karena memang faktanya, barang sejenis, harga yang ditawarkan di marketplace, bisa jauh lebih murah, jika dibandingkan kita beli di toko konvensional.

Kalau dilihat dari sudut pandang pembeli, sebetulnya sudah pasti beli barang di marketplace bakal jauh menggiurkan, ragam produk yang banyak, harga yang ditawarkan jauh lebih murah, serta segala kemudahan yang ditawarkan oleh marketplace. Tapi salah satu yang menjadi pertimbangan belanja atau tidaknya adalah, biaya kirimnya.

Karena untuk beberapa kasus, saat berbelanja di marketplace, ongkirnya bisa jadi lebih mahal dari harga produknya. Misal, harga produknya 50.000, biaya kirimnya bisa aja 70.000.

Karena lokasi penjual dan pembeli berjauhan secara geografis. atau, walaupun lokasi  penjual dan pembeli berada di satu pulau, tapi beda kota misalnya, (yang ongkir per kg harusnya relatif murah), tapi karena bobot paketnya berat, sehingga ongkirnya juga jadi mahal.

Intinya, sering kali yang bikin orang enggan belanja online, adalah karena ada biaya ongkos kirim yang harus dibayar.

Nah perusahaan marketplace melihat masalah itu menjadi peluang sebagai alat marketing, untuk menarik hati customer. Udah harga barangnya murah, gratis ongkir pula.

Akhirnya belanja online dan gratis ongkir ini sudah menjadi budaya, di semua marketplace besar di Indonesia.

Sampai sampai pelanggan pun sudah terlanjur manja atau kecanduan, kalau belanja online tapi nggak gratis ongkir, nggak jadi belanja, dan pindah ke aplikasi lain.

Gratis ongkir merugikan marketplace?

Seingat saya, budaya gratis ongkir ini sudah dimulai sejak Tahun 2017an. Selama program ini berjalan, boleh dibilang, para marketplace lah yang menanggung ongkos kirim, seluruh transaksi untuk produk-produk yang berlabel gratis ongkir.

Kenapa marketplace mau bayarin? ya karena ini sudah jadi strategi marketing mereka, kalau tidak ikutan kasih free ongkir, pelanggan akan lari ke marketplace kompetitor.

Tapi untungnya perusahaan startup marketplace ini di backup dana yang besar oleh para investornya. Sehingga ngasih gratis ongkir ke pelanggannya mirip kayak dana untuk ngiklan di TV, billboard, dll. Gratis ongkir = biaya marketing.

2020 seluruh Dunia dihantam pandemi covid 19. Banyak unit bisnis terganggu dan merugi.

Nah untuk diketahui, perusahaan shopee ini merupakan anak perusahaan, dari Sea Grup, perusahaan publik yang pusatnya di Singapura. Sea Grup punya banyak lini bisnis di seluruh dunia. Dan pendanaannya sendiri berasal dari luar negeri. Saat ekonomi dunia penuh dengan ketidakpastian, maka anak perusahaan seperti Shopee akan ikut terdampak.

Belum selesai dihantam covid 19, perang rusia – ukraina juga meledak. Yang membuat pendanaan dari induk perusahaan jadi terganggu.

Sehingga, mau nggak mau, shopee harus melakukan efisiensi di mana mana, termasuk PHK karyawan.

Dan menurut pengamatan saya, shopee juga akan melakukan efisiensi di Gratis ongkir.

Nah ngomong-ngomong gratis ongkir,  baru baru ini, shopee membuat layanan pengirimannya sendiri, yaitu. Shopee Xpress.

Bagi yang sudah pernah belanja di shopee menggunakan jasa kirim Shopee Xpress, udah pasti tau, seperti apa layanannya.

Pengirimanyna lambaaaaaat bangeeeeeeet….! Awalnya saya pikir, cuman pengiriman dari jakarta ke bali aja yang seperti itu, ternyata dikota-kota lain juga ngalemin. (Bisa di baca disini)

Apakah Shopee Xpress hanya akal-akalan?

Kenapa tiap kali kita checkout belanjaan di shopee, lalu pilih gratis ongkir, secara default, kurir yang terpilih adalah Shopee Xpress, yang layanan pengirimannya sangat lambat itu?

Atau jangan-jangan ini cuman akal-akalan shopee aja?, agar penggunanya membenci layanan gratis ongkir, dan mulai membiasakan diri untuk ikhlas bayar ongkir?

Kenapa saya bisa bilang gitu? karena saya perhatikan setelah beberapa kali belanja barang di shopee, seluruh paket yang dikirim oleh Shopee Xpress, semuanya bikin gregetan!, pengirimannya lambat banget!, rata-rata 2 minggu baru sampai. Padahal barangnya kita butuhin segera.

Diwaktu yang bersamaan saya beli barang di shopee, tapi pakai jasa kirim regular (AnterAja, J&T, dsj…) pengirimannya cepet-cepet aja, 2-3 hari sudah sampai.

Nah lalu saya berspekulasi, apa jangan-jangan Shopee menciptakan Shopee Xpress, karena sebuah misi?, yaitu menghilangkan budaya gratis ongkir di Indonesia.

Mau gratis ongkir? ya harus sabar menunggu!, paket 2 minggu baru sampai.

Atau mau cepet? ya bayar ongkir!, paket 2-3 hari sudah sampai.

Seakan – akan pesan itu yang mau disampaikan oleh shopee.

Sekali lagi, ini cuman spekulasi saya aja ya. 

Kita dukung penghapusan Gratis Ongkir?

Saya bikin artikel ini, justru karena saya bisa memahami keadaannya. Justru memang sudah waktunya dibiasakan, kalau belanja online, ya harus bayar ongkir.

Biar ada gambaran, saya coba ilustrasikan, agar dapet konteksnya.

Saya kan tinggal di Bali, saat saya beli barang di jakarta, berarti paket saya tersebut, selama pengiriman jakarta-bali, akan berpindah – pindah tangan.

Bayangin aja, berapa manusia yang menghandle paket tersebut dari jakarta hingga bali? emang orang-orang ini nggak di gaji? kan orang kerja harus digaji.

Selain melibatkan manusia, juga melibatkan alat transportasi, mulai dari sepeda motor (kurir jemput paket), dikirim ke gudang, disortir, lalu dimasukkan ke truk, dikirim ke bandara, lalu diterbangkan oleh pesawat, sampai di kota tujuan, langsung diangkut truk lagi, dikirim ke gudang penampungan kota tujuan, dari gudang disortir lagi, diangkut mobil lagi untuk dikirim ke gudang hub kecamatan. Setelah itu, barulah diangkut sepeda motor oleh kurir, untuk diantarkan ke rumah kita.

Seluruh transportasi itu emang nggak pakai biaya?

Saya menjelaskan ini biar kebayang, bahwa perpindahan paket dari kota A, ke kota B, itu butuh biaya. Jadi worth it kalau kita harus bayar ongkir.

Selama ini, seluruh biaya pengiriman ini ditanggung oleh pihak shopee (di traktir). Jadi lu harus sadar, bahwa selama ini kita di TRAKTIR lohhh sama shopee.

Namanya traktir, kan nggak terus terusan kan?

Pemerintah aja makin kesini, subsidi BBM dikurangi terus. ia nggak? itu negara loh.

Startup di Indonesia lagi susah

Oke balik lagi ke topik.

Kalaupun spekulasi saya benar, bahwa Shopee menciptakan Shopee Xpress untuk upaya menghilangkan kebiasaan gratis ongkir. Menurut saya sah sah saja. 

Karena faktanya, saat ini bisnis startup lagi nggak baik baik aja, terutama di Indonesia. Banyak banget headline news tentang perusahaan startup yang tutup, dan yang masih jalan pun, banyak yang harus mem-PHK karyawannya. Karena di masa sulit seperti ini, perusahaan dituntut melakukan efisiensi dimana mana. Salah satunya ya di subsidi gratis ongkir ini.

Untuk sekedar info, saya juga aktif sebagai seller di Shopee dan Tokopedia, dan saya sangat bersyukur, karena sudah dapet rejeki yang lumayan lah dari kedua marketplace ini. Saya sehari hari hidup dari hasil jualan di shopee dan tokopedia.

Subsidi Gratis Ongkir dibebankan ke Seller

Nah karena aktif sebagai seller, saya juga tau bahwa, sekarang di tokopedia ataupun di shopee, biaya subsidi gratis ongkir yang dinikmati pembeli, juga harus ditanggung oleh penjual (seller). Rata-rata saya perhatikan 10ribuan tiap transaksi.

Dan sempat banyak beredar video-video tiktok, tentang keluhan para seller di shopee/tokopedia, karena mereka tidak tahu bahwa ada potongan biaya yang cukup besar dari tiap penjualan produknya (biaya subsidi ongkir).

Video Seller Ngomel-ngomel :

@andciu09

#stitch with @Laura Siburian it will become hard for marketplace seller. get ready ! #tokopedia #shopee #seller #shopeeseller #biaya biaya tokopedia naik lagi biaya shopee naik lagi

♬ original sound – Andrew Ciu – Andrew Ciu
@renneayr

gmn y tolong lah tau ko mau balik modal tp ga ngerugiin seller gini @Shopee Indonesia

♬ 1001 Arabian Nights – Chipz

Note : Selain dua video diatas, masih banyak lagi. Nggak mungkin saya masukin semua disini.

Dan ini terjadi tidak hanya di shopee ya! di Tokopedia juga. ini saya kasih contoh penampakannya di Akun Tokopedia Seller saya. Saya coba kasih 2 capture contoh transaksi.

Kalau saya, kebetulan banget keuntungan tiap produk / marginnya cukuplah, sehingga saat kena potongan biaya 10ribu/transaksi, saya masih oke.

Tapi masalahnya, bagi para seller produk produk komoditi, atau produk yang saingannya banyak di marketplace, itu margin keuntungannya sedikit banget. bahkan ada yang dibawah 10ribu per produk. Sehingga banyak seller tidak menyadari dirinya rugi jutaan rupiah selama berbulan – bulan.

Dimana marginnya cuman Rp5.000/barang, tapi saat ada orang yang beli produknya, seller malah kena biaya Rp10.000an. Bukannya untung, malah jadi rugi, karena minus Rp5.000 tiap ada yang beli produknya. Belum lagi ada biaya operasional dan gaji karyawan.

Disatu sisi, kalau naikin harga produk, nggak ada yang beli, karena produk komoditi ini mudah banget di cari, karena pembeli bisa memfilter berdasarkan produk sejenis yang harganya paling murah.

Nah sampai sekarang masih jadi dilema, bagi para seller di marketplace.

Jadi menurut kamu gimana? kamu stuju nggak kalau budaya gratis ongkir di Indonesia lama lama akan dihilangkan?

Salam

Putu Adi.


belajar kombucha

Follow saya di sosial media

Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments